Belajar Seru Lewat TikTok

TikTok kini tengah berada di puncak popularitas. Di Indonesia,  platform media sosial yang memungkinkan penggunanya membuat video pendek berdurasi satu menit itu sempat diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 2018 lalu karena dianggap tidak mendidik. 

Namun sekarang, sebagian orang justru menggunakan TikTok sebagai media pembelajaran yang dinilai mampu menarik antusias siswa karena memiliki musik, filter dan beberapa fitur kreatif lainnya. Cara ini pun diadopsi oleh Pahamify, sebuah aplikasi belajar yang bisa diakses seluruh pelajar di Tanah Air melalui ponsel pintar. 

Mohammad Ikhsan, Chief Product and Marketing Officer Pahamify melihat ada banyak pengguna usia sekolah yang memanfaatkan TikTok untuk sekadar mengisi waktu luang dengan membuat video. Dari situ, Pahamify yang juga memiliki channel di YouTube mulai berekspansi ke TikTok. 

Menurut Ikhsan, ada banyak fitur edit video pada TikTok yang memudahkan pengguna berkreasi membuat sebuah karya. Keunggulan tersebutlah yang tak dimiliki YouTube. Selain itu, dengan memanfaatkan TikTok, Ikhsan mengaku bisa sekaligus mengamati tren yang sedang berjalan di kalangan anak-anak muda saat ini. Dengan begitu, ia bersama tim bisa menciptakan sebuah konten ajar yang relevan. 

“Ketika pembelajaran dibuat dengan materi yang relevan dengan kehidupan mereka itu bakal lebih gampang masuk. Lebih mudah dimengerti,” ujar ikhsan saat menjadi narasumber dalam diskusi Jarak Dekat dengan Bantu Guru belajar Lagi (BGBL) melalui live IG, Minggu (28/6). 

Di samping manfaatnya sebagai media pembelajaran, Ikhsan tak menampik bahwa terdapat pula konten-konten negatif di TikTok yang kurang tepat apabila dikonsumsi oleh anak-anak. Kondisi ini mendorong ia dan tim di Pahamify untuk merekomendasikan beberapa akun Tiktok yang khusus menyediakan konten berbau edutainment kepada anak-anak. 

Di samping manfaatnya sebagai media pembelajaran, Ikhsan tak menampik bahwa terdapat pula konten-konten negatif di TikTok yang kurang tepat apabila dikonsumsi oleh anak-anak. Kondisi ini mendorong ia dan tim di Pahamify untuk merekomendasikan beberapa akun Tiktok yang khusus menyediakan konten berbau edutainment kepada anak-anak. Hal ini untuk menyiasati agar anak-anak memanfaatan TikTok hanya untuk hal-hal yang positif. 

Durasi terbatas

Terdapat tantangan tersendiri dalam memanfaatkan TikTok sebagai media pembelajaran. Salah satunya soal durasi video yang tak lebih dari satu menit. Ikhsan mengungkap hal ini menuntutnya untuk pintar-pintar merancang materi ajar yang bisa dijadikan konten video berdurasi singkat. 

Menurut Ikhsan, konten video yang singkat di satu sisi justru menguntungkan. “Kalau videonya kepanjangan, dari 6 atau 7 menit pertama anak-anak hilang fokusnya,” tutur Ikhsan. 

Menurut dia, semakin pendek videonya maka perhatian anak-anak pun semakin terfokus pada materi yang disampaikan. Berbeda jika video tersebut dibuat dengan durasi 30 menit, itu akan membuat mereka bosan. Kemungkinan menyelesaikan video dengan durasi satu menit, lanjut Ikhsan, lebih tinggi dibandingkan video berdurasi panjang. 

Namun video singkat juga dikhawatirkan tak bisa memberi pemahaman optimal terhadap sebuah materi ajar yang disampaikan kepada anak-anak. Ikhsan bilang, hal itu tak menjadi masalah sebab video yang dibuat dan diunggah di Tiktok bersifat memotivasi anak-anak sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu mereka. 

“Kalau ada video menarik misalnya tentang fisika, gaya gravitasi banyak eksperimennya di TikTok dan itu bisa dishare. Anak-anak bisa lihat langsung yang menarik di video tersebut, lalu kita bisa buat penjelasannya,” jelas Ikhsan. Dengan demikian, TikTok pun berperan sebagai platform media sosial yang memungkinkan penggunanya untuk berkolaborasi. 

Selain sains seperti fisika, banyak pula video di TikTok yang berisi pembelajaran bahasa Inggris. Di Indonesia pembelajaran bahasa Inggris melalui TikTok, menurut ikhsan, lebih terfokus untuk memperkaya kosa kata atau vocabulary

Tantangan membuat konten video di TikTok sebagai media pembelajaran

Andiko Prasetyo Adi, Videographer & Animator di Pahamify menjelaskan bahwa seorang kreator khususnya yang ingin membuat video pembelajaran di TikTok harus selalu memperbanyak referensinya. 

“Sering-sering melihat karya orang. Dari karya orang itu kira-kira apa sih kelemahannya, kira-kira apa sih yang bisa di-improve dari karya tersebut,” kata Andiko. 

Andiko mengatakan proses kreatif dalam membuat video pembelajaran di TikTok bisa dimulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana namun unik sehingga mendorong rasa penasaran orang lain untuk mencari tahu. 

Selanjutnya, Andiko akan menulis skripnya. Formulasi yang digunakan yakni dengan memunculkan masalah dan menampilkan solusinya. Saat itu, Andiko mengaku harus memutar otak agar skrip yang ditampilkan ke visual tidak memakan durasi lebih dari satu menit. Ia juga harus selalu memikirikan bagaimana cara membuat video berdurasi singkat yang menarik sekaligus memberikan pemahaman tentang materi yang disampaikan. 

Ikhsan menambahkan, keberhasilan sebuah video memang sangat ditentukan dari penulisan skripnya. “Skripnya bagus, meski visualnya kurang tetap mudah dipahami,” kata ikhsan. Sebelum merambah ke TikTok pun Ikhsan mengatakan bahwa dirinya dan tim juga mempelajari penulisan skrip yang baik dari film director

TikTok bagaimanapun kini telah dimanfaatkan sebagai media pembelajaran alternatif yang menyenangkan. Murid bisa mempelajari sains dan bahasa melalui video yang berdurasi singkat namun tetap mudah dipahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *