Cara Memelihara Kesehatan Mental di Masa Pandemi dengan Metode ASIG

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pandemi COVID-19 saat ini telah berdampak pada krisis kesehatan mental warga dunia. Hal ini bahkan bisa menimpa siapa pun tanpa terkecuali. 

“Dampak pandemi terhadap kesehatan mental orang-orang sudah sangat memprihatinkan,” tutur Tedros Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, seperti dikutip dari laman WHO

Pemicu krisis kesehatan mental di masa pandemi, imbuh Tedros, bisa karena keterasingan sosial yang dirasakan masyarakat akibat adanya physical distancing yang membatasi kontak fisik antarmanusia demi memutus rantai penularan virus corona. 

Selain itu, timbul ketakutan di benak masyarakat apabila sampai tertular atau terinfeksi virus mematikan yang belum ditemukan vaksin dan obatnya tersebut. Yang tak kalah membuat mereka terpukul adalah ketika harus kehilangan anggota keluarga akibat COVID-19. 

Tak cuma merenggut nyawa seseorang, pandemi ini juga menyebabkan banyak orang kehilangan mata pencaharian sehingga sulit bagi mereka untuk bertahan hidup. Maka tak heran, kasus depresi pun meningkat di sejumlah negara. 

Mereka yang rentan terhadap tekanan psikologis akibat pandemi, salah satunya adalah anak-anak dan remaja. Para orang tua di Italia dan Spanyol mengeluhkan bahwa anak-anak mereka mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, mudah marah, gelisah, dan gugup. 

Kelompok lainnya yang berisiko adalah kaum perempuan, terutama saat mendampingi buah hati mereka menjalani sesi belajar secara online dan harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga di waktu yang bersamaan. 

Psikolog sekaligus Founder dan penulis buku ‘Enlightening Parenting’ Okina Fitriani menyebut bahwa tantangan serupa juga dialami oleh para guru dalam kegiatan belajar mengajar secara daring. 

Namun Okina menekankan bahwa kesulitan-kesulitan yang timbul sebagai dampak dari wabah COVID-19 yang akhirnya turut mempengaruhi kesehatan mental seseorang merupakan hal yang wajar. Meski begitu, menurut Okina, setiap orang harus memiliki resilience atau kemampuan tahan banting termasuk ketika menghadapi beragam tantangan di masa pandemi seperti saat ini. 

“Ibaratnya kita ini adalah bola bekel, ketika dilemparkan ke dinding (kesulitan), orang yang tidak memiliki sifat resilience maka akan pecah berkeping-keping, ia akan depresi (menghadapi kesulitan itu),” ujar Okiano dalam sesi live Instagram bersama Bantu Guru Belajar Lagi, 17 Mei 2020 lalu. 

Untuk itu, dibutuhkan cara agar manusia memiliki ketahanan, fleksibilitas serta elastisitas dalam menghadapi tantangan melalui sebuah metode ASIG (Accept, Select, In, Grateful) yang dijabarkan oleh Okina. 

Accept berarti menerima dan tidak bersikap denial setiap dihadapkan pada sebuah kesulitan. Okina menjelaskan bahwa dalam keadaan darurat seperti ini, seseorang perlu menerima kenyataan bahwa mereka tengah berada dalam kondisi pandemi, sehingga semua orang harus tinggal di rumah untuk sementara waktu demi mencegah penularan COVID-19. Menurut dia, sikap denial hanya akan memperburuk keadaan. 

Selanjutnya, select merujuk pada kemampuan seseorang untuk menyeleksi apa yang harus mereka prioritaskan dalam mencari solusi untuk kesulitan yang tengah dihadapi. Dalam kasus pandemi seperti ini, memilih informasi terkait COVID-19 hanya dari sumber terpercaya merupakan salah satu contohnya. 

“Nah, bagi para guru, yang pertama kali harus dibaca adalah aturan pemerintah yang harus dipatuhi dalam proses mengajar dari rumah. Aturannya jelas, untuk kelulusan itu berdasarkan (penilaian dari) 5 semester terakhir, ujian yang dilakukan secara daring kalau memungkinkan, atau tambahan asignment selama di rumah, untuk kenaikan kelas berdasarkan (penilaian dari) semester sebelumnya dan tambahan-tambahan ketika belajar secara daring,” terangnya.  

Selain menyeleksi informasi, Okina menuturkan bahwa select di sini juga menekankan pada kemampuan memilih aktivitas yang berdampak positif sehingga kesehatan mental seseorang bisa tetap terjaga. Aktivitas tersebut bisa disesuaikan dengan minat dan kegemaran masing-masing. 

Selanjutnya yang tak kalah penting adalah kemampuan memilih area perubahan yang mampu kita kendalikan. Sebab yang kerap terjadi selama ini, seseorang berpikir bahwa ia bisa mengubah segala hal sesuai kehendaknya,  ini termasuk mengharapkan perubahan pada orang lain. 

Padahal menurut Okina, seseorang hanya mampu mempersuasi orang lain untuk berubah, jika ada trust atau kepercayaan pada diri mereka terhadap seseorang yang memberikan persuasi tersebur. Artinya, tanpa adanya trust, maka tak ada jaminan bahwa orang itu mau berubah. 

“Tujuan yang menggantungkan hasilnya pada perubahan perilaku orang lain adalah tujuan yang paling rawan menghasilkan frustasi,” ujar Okina mengingatkan. 

Namun Okina juga mengungkap bahwa hal tersebut bukan tidak mungkin untuk disiasati. Sebab jika seseorang mengharapkan orang lain berubah maka ia pun harus secara kreatif mencari stimulasi yang berbeda-beda demi memperoleh respons yang sesuai dengan harapan. 

Setelah kemampuan tersebut berhasil diasah, kita juga perlu berlatih untuk memiliki kesadaran penuh (In). “Lakukan semua hal dengan kesadaran penuh here and now. Sadar sepenuhnya kita sedang dalam situasi apa. Rencanakan hari demi hari khusus di area ini, mindful,” kata dia. 

Hal ini karena kita sering sibuk memikirkan masa depan yang serba tak pasti, sehingga energi dan pikiran kita terkuras untuk hal-hal semacam itu. Jika sudah seperti itu, maka sangat  mudah untuk seseorang mengabaikan persoalan apa yang tengah ia hadapi saat ini termasuk untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut. 

Setelah accept, select, dan in, maka kunci terakhir agar tidak mudah stres dalam menghadapi beragam kesulitan dan tantangan hidup adalah dengan cara bersyukur (Grateful). 

Telah banyak penelitian yang membuktikan efek positif dari memelihara rasa syukur, seperti yang dijelaskan Okina. Menurutnya, berbagai hasil penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun menunjukkan bahwa orang yang terbiasa bersyukur, dalam jangka panjang akan memperoleh kesehatan yang lebih baik. 

Perlu dicatat, metode ASIG tak hanya bisa dipraktikkan untuk memelihara kesehatan mental di masa pandemi yang serba sulit. Sebab menurut Okina, kesulitan pasti muncul silih berganti dalam kehidupan setiap orang sehingga penting untuk kita memelihara kewarasan dengan menerima kesulitan itu dalam keadaan apa pun, pandai memprioritaskan solusi yang kita pilih untuk menyelesaikannya, memiliki kesadaran penuh terhadap apa yang sedang kita hadapi serta belajar bersyukur dengan mengambil pelajaran dari setiap kesulitan yang pernah dilalui. 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *