Orang Tua Juga Harus Beradaptasi Selama Anak Belajar dari Rumah

M Naufal asyik bermain dengan koleksi lego miliknya. Sebulan terakhir, bocah 5 tahun itu kerap terlihat sibuk menyusun potongan-potongan lego yang punya banyak warna dan ukuran menjadi beragam bentuk.

Annisa Nuril, sang ibunda, berkisah kepada Bantu Guru Belajar Lagi (BGBL) soal kegemaran putra sulungnya semenjak menjalani pembelajaran jarak jauh dari rumah yang diterapkan sekolah sejak 16 Maret 2020 menyusul adanya wabah virus corona.

Annisa mengaku tak ambil pusing jika sang putra yang kini masih duduk di bangku taman kanak-kanak lebih memilih bermain dengan lego-legonya. Wanita 27 tahun itu tak ingin memaksa anaknya untuk selalu dapat memenuhi check list tugas yang diberikan guru setiap harinya.

“Selama di rumah, dia bikin lego dengan berbagai model. Sebulan ini, aku lihat skill dia untuk menyusun lego dari setiap piece sangat berkembang,” ujar Annisa yang percaya bahwa setiap momen yang dilewati anak bisa menjadi sarana belajar untuk mereka. Annisa pun meyakini dengan bermain lego anak bisa belajar mengasah kreativitasnya.

Annisa bersama suami dan kedua putranya tinggal di Tulungagung, Jawa Timur.  Naufal sendiri bersekolah di salah satu TK swasta berbasis pendidikan Islam. Mulanya, pihak sekolah mengumumkan masa home learning  usai pada 5 April 2020, namun karena pandemi belum juga berakhir, akhirnya diperpanjang hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Biasanya di pukul 06.00 atau 07.00 pagi setiap harinya, guru Naufal akan membagikan jadwal harian siswa melalui grup WhatsApp wali murid. Tugas Annisa kemudian menerjemahkannya kepada sang anak.

Annisa tak menampik bahwa bukan hal yang mudah untuk membentuk iklim belajar di rumah layaknya di sekolah. Ada beberapa kendala yang yang ia jumpai saat harus mendampingi sang putra agar disiplin mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

“Pertama, karena di rumah ada adiknya. Biar enggak bolak-balik, selama ada wabah corona aku sementara tinggal di rumah orang tua yang membuka bisnis konveksi. Situasi rumah ramai dengan pegawai yang juga membawa serta anaknya, sulit untuk Naufal fokus belajar ketika sudah bertemu teman-teman seumurannya,” keluh Annisa yang sehari-hari juga bekerja di usaha milik keluarganya itu.

Menurut Annisa, situasinya mungkin bisa berbeda jika di rumah hanya dihuni beberapa anggota keluarga sehingga anak pun tidak mudah teralihkan perhatiannya dengan kehadiran orang lain. Annisa pun tak ingin kecil hati, ia menganggap anak-anak seusia Naufal sudah sewajarnya menghabiskan lebih banyak waktunya untuk bermain.

Namun bukan berarti pula ia tak tegas. Hanya saja, Annisa lebih senang memotivasi Naufal melalui teman-teman sekelasnya dibandingkan harus memaksa putranya agar mau mengerjakan tugas sekolah.

“Aku bilang ke Mas (panggilan sayang Annisa pada putra sulungnya), ini teman-teman sudah selesai lho ngerjain tugasnya,” kalimat-kalimat seperti itulah yang menurut Annisa bisa membangkitkan semangat putranya untuk menyelesaikan kewajibannya.

Annisa pun dengan setia mendampingi sang putra terutama jika ia mendapat tugas membuat prakarya atau harus menyetor hafalan doa dan praktik wudhu. Hasilnya kemudian akan dikirim ke wali kelas sang putra dalam bentuk foto, voice note atau video lewat WA.

Annisa menyadari perannya sebagai ibu yang merangkap jadi guru buat Naufal belum sepenuhnya optimal. Anggapan itu muncul terutama ketika menyaksikan peran wali murid lain yang tampak begitu bersemangat mendampingi buah hatinya ketika home learning. Annisa menganggap mereka telah berhasil karena anak-anaknya mampu memenuhi check list tugas yang diberikan guru setiap harinya.

“Aku kadang ngerasa sungkan, di status WA gurunya, tugas-tugas murid lain di-posting, tapi punya anakku enggak karena memang belum ngumpulin. Dari situ aku ngerasa masih banyak kekurangan,” tutur ibu dua anak itu.

Tak patah semangat, Annisa mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua anak istimewa. Setiap anak, menurut dia, memiliki kecerdasannya masing-masing yang bisa saja berbeda dengan anak-anak lainnya. Belajar pun, kata dia, tak melulu harus dalam bentuk baca, tulis, hitung (calistung) yang mengandalkan text book.

Dari pengalamannya mendampingi sang putra selama belajar di rumah, Annisa menyadari betapa pentingnya memahami karakter sang anak. Ia percaya bahwa setiap momen yang dilalui anak, bisa memberi mereka peluang untuk mempelajari banyak hal baru sesuai dengan apa yang menjadi ketertarikannya.

“Apakah kita lantas menilai semua aspek kepintaran anak berdasarkan kognitif kan enggak. Jangan sampai kita beranggapan bahwa belajar itu harus text book, harus calistung atau yang sifatnya hafalan,” tegas Annisa.

Di tengah wabah seperti ini, Annisa juga tak lupa menyisipkan edukasi seputar virus corona kepada putranya. Menurut dia, anak harus diberi pemahaman soal mengapa mereka harus belajar dari rumah dan untuk sementara tidak diizinkan ke sekolah.

Agar anaknya tak bingung, Annisa memanfaatkan video yang dibuat salah seorang penulis buku anak yang menurutnya sangat relevan untuk dipahami anak-anak seusia putranya.

“Dia bisa ngasih tahu ke adiknya jangan lupa cuci tangan biar enggak kena corona. Dia juga paham kenapa kita harus pakai masker, tidak boleh keluar rumah dan pergi ke sekolah,” tutup Annisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *