Nak, bukan hanya ilmu yang penting, akhlak yang baik jauh lebih penting!

Nama Saya Aulia Santika, saya adalah seorang mahasiswi POLTEKKES KEMENKES MANADO jurusan FARMASI tingkat akhir dan saya juga seorang guru di salah satu Taman Pelajar Al-Qur’an pedalaman yang berada di Manado. Saya juga bercita-cita menjadi aktivis dakwah Islam.

Jika mendengar latar belakang pendidikan saya, banyak orang yang tidak percaya mengapa saya memilih menjadi guru TPA. Oke saya jawab sekarang, ini adalah cita-cita saya, saya ingin berbagi segala yang saya punya, baik ilmu, materi, tenaga bahkan pengalaman khusus kepada anak-anak pelosok desa yang memerlukan ilmu agama yang menjadi dasar mereka mengenal Tuhannya.

Di TPA, saya selalu menanamkan santri yang saya ajar dengan ilmu dan akhlak yang baik. Karena jika  berilmu tanpa dibarengi dengan akhlak yang baik, manusia tak akan ada apa-apanya.

Hal-hal yang sering saya biasakan di TPA adalah berkata yang baik dan sopan terhadap orang tua dan juga teman sebaya, jika mau meminjam atau mengembalikan barang tidak boleh dilempar, tidak bertindak kasar, jika berbuat salah atau melakukan kesalahan haruslah meminta maaf dan memaafkan,

Ada suatu cerita yang saya lupa hari dan tanggalnya, pada saat itu seusai menunaikan sholat magrib ada dua orang anak saling bersiteru satu sama lain sehingga pada waktu itu membuat gaduh seisi TPA, merasa sakit hati kedua anak ini menangis. Saya tidak tinggal diam melihat kegaduhan pada waktu itu, dan saya pun menghampiri kedua anak itu dan bertanya apa duduk masalah yang sebenarnya. Ternyata masalah itu masalah yang berlarut pada waktu mereka di sekolah tadi (wajarlah namanya juga anak-anak) dan terbawa sampai ke tempat mengaji.

Saya membujuk kedua anak ini untuk berbaikan dan meminta maaf, hanya saja namanya juga anak-anak mereka tidak mau dan enggan untuk meminta maaf dan memaafkan temannya. Setengah jam berlalu kedua anak ini masih bersikukuh tidak mau memaafkan. Dengan keadaan yang seperti itu saya tetap harus multitasking mengatur kelas dan santri yang lain, juga memperhatikan kedua anak yang bertengkar tadi. Namun, saya tidak kehilangan akal, saya menyuruh kedua anak itu saling berhadapan dan duduk bersila sambil menyentuhkan lutut mereka berdua dan saling memegang kedua tangan satu sama lain sampai keduanya mau saling meminta maaf dan memaafkan satu sama lain.

Saya mendekati mereka dan mencoba menenangkan mereka sambil menceritakan hal-hal lucu tentang persahabatan yg terjalin antara mereka santri-santri TPA saya, dan benar saja seorang dari mereka mengangkat wajahnya dan tertawa malu karena cerita yang saya ceritakan kembali itu. Dan anak ini dengan ringan mengangkat tangannya untuk meminta maaf, tapi santri yg satunya masih enggan untuk melakukan hal yang sama. Karena melihat respon dari temannya yang lama, ia langsung memeluk temannya itu dan meminta maaf. Dengan tangisan yang memecah dan cara penyampaian yang diutarakannya lewat bahasa anak kecil dan mereka berdua saling memaafkan .

Dan yang paling berkesan dari hal ini, seluruh santri saya mulai menyadari tentang segala hal baik seperti saling memaafkan yang saya biasakan kepada mereka dan mulai mengaplikasikannya dan terbawa sampai mereka balik lagi ke rumahnya.

Rasanya bagi seorang guru tak ada yang lebih membuatnya bahagia ketika melihat dari ilmu yang dibagikan diterapkan oleh murid yang diajarkan. Hal ini memang kecil, tapi dari hal yang kecil ini saya percaya bahwa saya dapat membuat sesuatu yang besar.

Alhasil dengan melihat perubahan dari santri-santri tersebut orang tua mereka yang tadinya sedikit acuh dengan anaknya yang tidak hadir mengaji, sekarang menjadi antusias jika sudah datang hari mengaji.

Saya Bu Guru Aulia, itulah cerita saya bersama para santri berakhlak baik yang saya sayangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *