Karena Belajar Itu Haruslah Menyenangkan!

Nama saya Erna Tikasari, biasa dipanggil Bu Guru Erna. Saat tulisan ini ditulis, saya adalah seorang Guru yang mengajar di Yayasan Nurul Huda Setu. Saya telah menjalani profesi ini selama 7 tahun lamanya. Kenapa saya memilih menjadi Guru? Simple, karena saya ingin mengabdi kepada bangsa ini. Dan pengabdian yang saya pilih adalah dengan cara mendidik murid-murid saya untuk dapat meraih mimpi-mimpinya. Semboyan Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara yaitu Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani inilah yang menjadi imspirasi dan kekuatan saya untuk mengikhlaskan diri mengabdi sepenuhnya pada bangsa ini.

Kalau bicara profesi Guru, saya mau curhat seputar kesulitan yang saya hadapi sebagai seorang Guru. Yang pertama adalah beban tumpukan dokumen administrasi seperti RPP dan sebagainya yang membuat saya kesulitan membagi waktu antara mengurus administrasi tersebut demi sertifikasi atau berfokus untuk memberikan pengajaran yang baik dan layak untuk anak didik saya? Saya rasa bukan hanya saya, rekan-rekan Guru lainnya juga mengalami kesulitan yang sama tuh.

Yang kedua, banyaknya mata pelajaran di kurikulum Indonesia yang tidak sesuai dengan minat dan bakat anak didik saya juga salah satu kesulitan yang saya hadapi sehari-hari. Sebagai seorang Guru Matematika, saya sulit membuat murid saya yang tidak memiliki minat terhadap sains untuk jatuh cinta kepada pelajaran Matematika, bidang yang saya ajar. Mereka tidak menyukai trigonometri, integral dan materi Matematika lainnya, menurut mereka, hal itu membosankan, sulit dan menakutkan sehingga mungkin saya terlihat seperti monster yang siap memakan di mata mereka. Duh! Tapi, karena sudah menjadi kurikulum, maka suka tidak suka, wajib hukumnya bagi saya untuk tetap menyampaikannya.

Walaupun saya sudah mencoba untuk ramah dan tetap tersenyum kepada mereka, namun karena yang tertanam di benak mereka adalah Matematika itu sulit, maka mereka membenci Matematika karena sulit! Waduh saya sungguh dilema pada saat itu.

Namun saya tidak menyerah, saya putar otak untuk memecahkan permasalahan ini. Gimana caranya membuat anak didik saya mencintai Matematika seperti saya mencintai mereka? Pada suatu ketika, saya ingat kalau semua orang pastilah menyukai permainan. Karena permainan itu pasti menghibur dan menyenangkan, bukan? Bukan hanya anak-anak atau remaja, orang dewasa pun termasuk saya suka bermain untuk menghilangkan stress. Lalu saya mencoba membuat alat peraga untuk materi Trigonometri dengan konsep game. Saya membuat ular tangga Trigonometri atau saya sebut Trigo-Chess yang dapat dimainkan mereka pada saat pelajaran Trigonometri. Dan Alhamdulillah, saya sangat lega dan bersyukur karena ternyata mereka sanggup menerima dan memahami pelajarannya dengan menyenangkan karena sekarang monster Trigonometri berubah bentuk menjadi game yang mengasyikan.

Trigo Chess

Setelah metode pengajaran baru saya berhasil, saya terus mengatur strategi game yang sama untuk diterapkan pada materi-materi lainnya. Dengan metode game ini, bukan hanya murid yang dapat belajar dengan lebih mudah dan juga menyenangkan, namun saya juga belajar. Karena dengan membuat game dalam pelajaran Matematika, saya terus meningkatkan kualitas diri saya sebagai seorang Guru dengan terus menemukan metode pengajaran baru yang menyenangkan untuk dan merubah ketakutan mereka kepada pelajaran yang dibenci menjadi lebih mudah dan mungkin sekarang mereka berbalik menjadi menyukainya.

Saya Bu Guru Erna, itulah cerita saya bersama murid-murid yang saya cintai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *